AYAH, AKU TIDAK MAMPU MENJADI INSINYUR SESUAI HARAPANMU, AKU INGIN MENJADI GURU MENGAJI, AKAN KUBUKTIKAN AKU BISA MELANGKAHKAN KAKIKU KE MEKAH!

Kisah ini merupakan kisah perjalanan panjang dalam perjuanganku menghafal 30 juz alquran. Kisah perjuangan berat yang pilu dan juga dihiasi dengan sejumlah kebahagiaan. Kisah yang terjadi kisaran 25 tahun silam. Aku hidup bertahun-tahun bersama nenek di sebuah desa, desa terpelosok yang terletak di tengah hutan di desa Alur Seuntang, Kecamatan Birem Bayeun, Kabupaten Aceh Timur. Tinggal jauh dari orang tua semenjak kelas 2 SD tahun 1994 mengaji sudah menjadi rutinitasku sejak saat itu. Dan aku mengaji di desa sebelah yang berjarak sekitar 5 km. Jarak yang panjang itu harus ditempuh dengan mengayuh sepeda.

Aku masih teringat, selama 2 tahun mengayuh sepeda untuk mengaji, namun aku gagal untuk naik ke tingkat iqro 5. Sehingga aku memutuskan untuk mengaji di desa tempatku tinggal bersama nenek. Aku pun mengaji kepada seorang guru mengaji yang tempatnya cukup jauh dari rumah. Perjalanan mengaji kali ini kutempuh dengan berjalan kaki di tengah hutan pada sore hari, kemudian kembali di malam hari yang gelap dengan berjalan kaki pula. Melewati hutan dengan suasana yang mengerikan tanpa sedikitpun penerangan, membuatku harus meraba untuk berjalan di dalam kegelapan.

Latar belakang keluargaku bukanlah keluarga yang taat beragama. Keluargaku hanyalah orang-orang awam yang tidak mengerti banyak tentang agama Islam bahkan keluargaku tidak mengerti tentang kewajiban salat sehingga jarang dari kami yang melaksanakan salat lima waktu ditambah lagi pamanku adalah pengkonsumsi narkoba.

Waktu pun berlalu, umurku bertambah dan aku telah menyelesaikan jenjang SD. Aku melanjutkan studi di salah satu SMP negeri di Kota Langsa, jaraknya sekitar 20 km dari tempatku tinggal bersama nenek. Aku harus mengayuh sepeda menuju Kecamatan dari desa, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan angkot menuju sekolah. Begitulah rutinitas yang kulakukan setiap harinya. Pada tahun pertama bersekolah di jenjang yang baru, SMP negeri tempatku bersekolah mengadakan Pesantren Ramadan, dan aku ikut serta dalam kegiatan tersebut. Kegiatan itu diakhiri dengan berbagai lomba, dan salah satunya adalah cabang tahfidzul Quran yang membuatku tertarik untuk mengikutinya. Aku pun bertanya kepada panitia lomba perihal berapa surat Alquran yang harus aku hafal, dan aku terkejut dengan ketetapan surat yang diujikan, ad-Dhuha sampai an-Nas. "Ya Allah, ampunilah hambamu ini, Aku belum hafal surat sebanyak itu." Batinku. Kegagalanku menghafal Alquran ketika SD membuatku tidak bisa mengikuti cabang lomba tersebut. Pada akhirnya, daripada tidak mengikuti lomba sama sekali, aku memutuskan untuk mengikuti cabang lomba nasyid. Alhamdulillah, aku mendapatkan juara 1. Namun, ketidakmampuanku menghafal Alquran dengan baik meninggalkan kesedihan yang menbekas di hati.

Waktu berlalu dengan cepat, dan setelah satu tahun berlalu di SMP negeri tersebut, hatiku mulai merasa tidak nyaman dengan lingkungan yang terasa kurang baik. Hal itu menyebabkanku merasa tidak betah. Namun, maha suci Allah yang selalu memberi hidayah dan petunjuk kepada hamba-hambanya. Alhamdulillah, Allah memberi hati kecil ini petunjuk, dan aku memutuskan untuk bersekolah di pondok pesantren niat baik ini kusampaikan kepada kedua orang tuaku, dan mereka menyambutnya dengan baik pula. Maka aku pun akhirnya pindah ke sebuah pondok pesantren di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, yang jaraknya sekitar 6 jam perjalanan dari kampung kelahiranku. Isak tangisku terdengar dan air mata berlinang membasahi pipi lantaran Aku harus berpisah dengan nenek, terlebih karena harus berpisah juga dengan orang tua.

Berada di pondok pesantren membuatku merasakan kehidupan yang baru. Aku menyadari bahwa kemandirian adalah suatu keharusan, juga bahwa kesuksesan tidaklah diraih dengan bersantai-santai. Tahun pertama aku bersekolah di pondok pesantren menyadarkanku tentang kurangnya hafalanku, karena aku tidak memiliki bekal hafalan bahkan walau hanya juz 30. Aku harus memulai dari awal dengan kerja keras ekstra untuk mendapatkannya. Dalam perjuanganku saat itu, aku pernah merasa geram dalam proses menghafal surat an-Naba karena merasa sangat kesulitan. Pada saat itu posisiku berada di masjid, dan aku pun memukulkan tanganku ke karpet hingga menimbulkan suara yang cukup keras, seorang kakak pengurus Masjid memanggilku akibat dari perbuatanku itu. Ia mengintrogasiku, dan menyatakan bahwa aku salah dan dihukum dengan memukulkan tanganku kembali ke lantai dengan keras. Aku merasa sedih, karena bukannya diberi semangat dan motivasi, aku malah dihukum.

Waktu pun berlalu dan aku akhirnya berhasil menghafal juz 30 walaupun terlambat, karena aku baru selesai ketika duduk di kelas 2 SMP di pondok pesantren tersebut. Kemudian aku di amanahkan untuk mewakili pondok pesantren dalam ajang MTQ tingkat desa dan Kecamatan, dan Alhamdulillah aku bisa lolos sampai tingkat kabupaten. Pada lomba tingkat kabupaten, aku mengikuti cabang lomba 1 juz dan tilawah. Namun Allah mengujiku dengan kekalahan di tingkat ini. Kesedihanku tampak pada saat pembagian hadiah MTQ. Aku tertegun, salah seorang official MTQ Kecamatan mendekatiku dan berkata, "Dek, Jangan bersedih, insya Allah kamu akan juara suatu saat nanti." Perkataan itu aku aminkan di dalam hati.

Sekolah di pondok pesantren berjalan lancar. Hingga di tahun terakhirku bersekolah, tepatnya tahun 2003, terjadi sebuah pemberontakan oleh mayoritas santri atas pimpinan pesantren. Hal itu menyebabkan 95% santri kabur dari Pondok Pesantren tersebut. Aku memutuskan untuk tidak ikut campur dalam pemberontakan tersebut. Cobaan semakin berat, hampir-hampir pondok pesantren dibubarkan. Hingga tak lama kemudian, pimpinan Pesantren dipecat oleh Yayasan buah dari pemberontakan tersebut.

Setelah kelulusan dan ijazah SMP telah diberikan oleh pondok pesantren, aku memutuskan untuk melanjutkan studi di pulau Jawa. Keinginan kuatku untuk mendapatkan pengalaman lebih dalam menghafal Alquran, membuatku melakukan keputusan yang nekat ini. Hal ini kusampaikan kepada kedua orang tuaku, dan alhamdulillah mereka menyetujuinya. Kemudian, dengan bekal hafalan sekitar 4 juz, aku pun bersiap-siap untuk berangkat ke pulau Jawa.

Sebuah pengalaman pahit membekas di benakku perihal perjalanan ini. Hal itu dimulai ketika aku dan ayah sudah berada di ruang tunggu menaiki pesawat, dan aku teringat bahwa ijazah SMP milikku masih berada di rumah, aku lupa membawanya, tertinggal jauh di kampung di Aceh sana. Mau bagaimanapun, diam tidak akan membawa solusi. Aku pun menyampaikan kepada ayah perihal kesalahanku ini. Spontan, ayah marah besar, karena kesalahanku ini membuatku seakan tidak memiliki keseriusan untuk menuntut ilmu di pulau Jawa. Rasa bersalah yang timbul akibat hal ini kujadikan pelajaran, tekadku untuk bersungguh-sungguh serta rasa bertanggung jawab dalam menuntut ilmu memuncak di dada ini. Nasi sudah menjadi bubur, karena tiket sudah dibeli dan kami sudah berada di ruang tunggu menaiki pesawat. Aku pun melanjutkan perjalanan menuju Jakarta bersama ayah tanpa ada kendala yang lain, alhamdulilah.

Sesampainya di Jakarta, kami melanjutkan perjalanan ke Solo, di dalam perjalanan tersebut berbagai percakapan tentunya tak terelakkan di antara ayah dan Aku. Masih membekas dalam ingatanku bahwa saat itu ayah masih berharap agar aku kelak menjadi insinyur, itulah yang diharapkannya dariku, "Ayah, apa itu profesi insinyur? Aku belum mampu menjadi insinyur, akan kubuktikan aku bisa melangkahkan kakiku ke Mekah." Balasanku itu sontak membuat ayah tersentak kaget. Tapi ia tidak melarangku atau memarahiku, karena seorang ayah hanya berharap kebaikan untuk anaknya. Keseriusan dan tekad dalam kata-kataku tadi barangkali menyentuh hatinya, dan ayah berpikir, "Baiklah, memang benar-benar ini pilihannya."

Sampailah kami di pondok pesantren yang kami tuju di Solo. Kondisi Pondok tersebut ternyata sangat kurang memuaskan dari segi fasilitas dan itu membuat ayah kecewa. Bagaimana tidak? Aku merantau jauh menyeberangi lautan hanya untuk bersekolah di pondok pesantren yang cukup kekurangan. Gedung yang tidak memadai, lemari kami diletakkan di sebuah ruangan kecil di depan masjid, dan kami tidur di dalam masjid setiap malamnya. Belum lagi, pesantren ini ternyata belum lama dibangun dan belum memiliki ijazah formal. Walaupun hal itu membuatku diterima dengan mudah karena aku tidak perlu menyerahkan ijazah SMP yang tertinggal. Ditambah dengan bibiku di Yogyakarta yang mencerca diriku karena tindakanku yang dinilai bodoh bersekolah di sekolah miskin, beratnya cobaan terasa datang bertubi-tubi di dalam sanubari. Tapi, aku harus tetap bertahan.

Setahun pun kulewati di pondok tersebut, Alhamdulillah hafalanku meningkat barang sedikit. Kurang lebih aku sudah menghafal 5 juz saat itu. Di sana, Aku berteman dengan seorang kakak kelas, beliau ternyata menyimpan sebuah brosur pondok pesantren. Aku terkagum melihatnya, subhanallah, itu adalah brosur pondok pesantren maju di Salatiga. Beliau juga menjelaskan bahwa kakak kandungnya bekerja di pondok pesantren tersebut. Aku pun berniat untuk pindah ke sana. Berhubung ijazah SMP milikku sudah sampai, aku menyampaikan niat baik ini kepada orang tua dan disetujui. Kemudian aku mendaftar dan diterima, alhamdulillah.

Bulan Juli tahun 2004 kegiatan sekolah dimulai di pondok pesantren baru ini. Sedikit info, pondok pesantren ini cukup terkenal dan termasuk favorit di Indonesia, sebab para alumninya banyak yang melanjutkan studi ke Timur Tengah terutama di Universitas Islam di Madinah Al Munawarah kerajaan Saudi Arabia, Masya Allah. Kemudian, jenjang yang pertama kududuki di sini adalah jenjang persiapan bahasa Arab, sebelum melanjutkan ke jenjang Madrasah Aliyah. Perkembanganku dalam menghafal Alquran di sini terasa sangat baik, alhamdulillah. Setahun kemudian, tepatnya ketika aku duduk di jenjang Madrasah Aliyah, aku diberikan amanah untuk mengikuti lomba MHQH (Musabaqoh Hifzil Qur'an dan Hadis) Amir Sultan cabang 10 juz tingkat nasional di Jakarta tahun 2007. Kupikir, inilah saatnya aku membuktikan kepada ayahku bahwa aku bisa mewujudkan cita-citaku dan perkataanku.

Berbagai persiapan pun aku lakukan sekuat tenaga, bahkan ketika liburan pun aku tidak pulang ke kampung halaman demi menghafal Alquran. Aku terus menghafal sendirian di dalam masjid pesantren, aku menghafal Alquran dengan seksama tanpa ada siapapun yang menemani kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala. Guru Tahfidz alquranku hanya sebatas guru di kelas sehingga aku berusaha untuk menambah hafalan secara mandiri di luar kelas. Benar saja, setelah aku mengikuti lomba MHQH Amir Sultan cabang 10 juz tersebut, namaku keluar sebagai juara pertama dengan hadiah haji ke baitullah yang diserahkan langsung oleh presiden republik Indonesia Bapak H. Susilo Bambang Yudhoyono di istana negara. Aku segera menelpon ayahku dan mengabarkan berita gembira ini. Ayahku menangis terharu, bangga dengan anaknya yang telah berhasil mewujudkan cita-citanya untuk berhaji walau masih berusia muda.

Di depan Ka’bah di baitullah sana, aku berdoa kepada Allah ta'ala untuk beberapa hal. Aku minta agar dapat menikah dengan wanita sholehah dan kelak ia adalah wanita yang melimpah sumber rezekinya, agar aku memiliki keturunan laki-laki yang lebih banyak dari keturunan perempuan, agar aku kelak dapat melanjutkan studi di Universitas Islam Madinah, dan lain sebagainya.

Waktu pun berlalu dengan cepat. Tak terasa, aku sudah memasuki tahun ke-3 di pesantren ini, dan sekarang aku sudah duduk di kelas 2 Madrasah Aliyah. Pada saat itu, aku mendapat kabar bahwa orang tuaku bercerai, dan itu membuatku sedih. "Ya Allah cobaan apalagi ini?" Tidak ingin air mataku menjadi sebab dari kegagalan, aku terus berjuang dan bersemangat dalam menghafal Alquran, alhamdulillah lagi-lagi aku diamanahi untuk mengikuti lomba MHQH Amir Sultan tingkat nasional dan internasional cabang 15 juz tahun 2008 dan mendapatkan juara pada keduanya. Aku juga mendapatkan hadiah uang dengan nominal yang cukup besar, sekitar 4900 dolar atau sekitar Rp. 48,000,000 pada saat itu. Dengan uang sebanyak itu, aku berniat untuk menikah demi menyempurnakan agama dan hafalan, karena menikah membuatku lebih tenang dan hafalanku akan lebih baik. Hal ini kusampaikan kepada kedua orang tuaku dan mereka menyetujuinya.

Tepat sebulan setelah lulus dari Madrasah Aliyah, aku pun menikah dengan pujaan hatiku yang dahulu pernah Aku doakan di depan Ka'bah. Aku tinggal bersamanya sambil mengemban tugas pengabdian dari pesantren menjadi guru mengaji atau guru Tahfidz. Hafalanku saat itu masih 15 juz, dan istriku terus mendukungku agar aku bisa mewujudkan impian menjadi penghafal Alquran 30 juz.

Berbagai lomba MTQ kuikuti, mulai dari tingkat kecamatan sampai internasional, dari cabang 1 juz sampai 30 juz, dan alhamdulillah sering mendapatkan juara. Di sinilah tangga proses menghafal Alquran untuk setiap juznya kunaiki. Dengan mengikuti berbagai event musabaqah, juga bimbingan guru Tahfidz di kelas selama bersekolah di pondok pesantren. Pada 13 Juni 2009, anak pertamaku lahir. Pada tahun itu juga, aku selesai menghatamkan hafalan Alquran 30 juz sendirian di masjid Pondok Pesantren. Tanpa ada seorangpun yang menyaksikan, tanpa ada prosesi wisuda hafalan, tanpa nasi tumpeng, dan hanya Allah sebaik-baik saksi. Kemudian aku memberanikan diri untuk mendaftar di Universitas Islam Madinah kerajaan Saudi Arabia. Kabar gembira sampai padaku di bulan Agustus pada tahun yang sama yaitu 2009, bahwa namaku keluar sebagai peserta yang diterima alhamdulillah. Dengan rasa bahagia bercampur sedih, aku harus meninggalkan istri dan anakku untuk menuntut ilmu di kota Nabi shalallahu alaihi wa sallam.

Ketika sampai di Madinah, aku memilih fakultas favoritku yaitu fakultas Alquran dan studi Islam. Fakultas tersebut adalah fakultas yang bergengsi, karena tidak semua orang bisa memasukinya. Hal itu disebabkan oleh syaratnya yang berat, harus memiliki hafalan kuat atau mutqin 30 juz. Berselang beberapa waktu kemudian, aku mendengar kabar bahwa nenekku meninggal dunia, aku tidak boleh patah semangat, aku harus bersungguh-sungguh mewujudkan cita-citaku untuk menjadi guru mengaji yang profesional di masa yang akan datang. Aku belajar dengan sungguh-sungguh untuk bisa lulus dari fakultas ini. Di tahun ketiga aku berada di Madinah, rasa rindu akan keluarga semakin terasa. Aku terus berdoa kepada Allah agar seluruh keinginan dan doa-doaku terkabulkan. Maha suci Allah yang senantiasa mengabulkan permintaan hambanya, akhirnya aku memberikan hadiah terbaik dalam hidupku untuk istri dan anakku, yaitu mengunjungi Baitullah dan tinggal di kota Madinah.

Akhir cerita, tepatnya di bulan Februari tahun 2016, aku dinyatakan lulus S1 fakultas Alquran AlKarim Dan studi Islam Universitas Islam Madinah kerajaan Saudi Arabia dan mendapatkan ijazah sanad Alquran 30 juz riwayat Hafsh dari dari Masjid Nabawi dan fakultas Alquran. Dahulu, aku sempat diejek oleh teman karena belum pernah bersekolah di pondok Tahfidz. Kini, Allah telah menggantinya dengan yang lebih baik. Pondok Tahfidz pertamaku adalah halaqah Tahfiz di Masjid Nabawi, dan Aku langsung mengambil program ijazah sanad 30 juz. Aku kemudian pulang ke tanah air bersama keluarga dan kembali ke pondok pesantren yang dulu membesarkanku.

(Kisah ini ditulis oleh saya sendiri Dicky Miswardi, B.A. dari kisah nyata saya. Alamat saya: Pesantren Islam Al-Irsyad Jl. Raya Surakarta-Semarang Km. 45, Desa Butuh, Kec. Tengaran, Kab. Semarang, jaa Tengah 56126 - WhatsApp: 08996830011).
Desa Alur Seuntang Picture 1
Desa Alur Seuntang Picture 2
Desa Alur Seuntang Picture 3
Umroh
Di UIM
Di Masjid Nabawi
Di Depan Ka’bah
Di UIM
Hadiah MHQH
Bersama Presiden SBY

One thought on “AYAH, AKU TIDAK MAMPU MENJADI INSINYUR SESUAI HARAPANMU, AKU INGIN MENJADI GURU MENGAJI, AKAN KUBUKTIKAN AKU BISA MELANGKAHKAN KAKIKU KE MEKAH!

  1. MasyaAllah Tabarokallah , semoga kisah ini dapat memberikan motifasi untuk anak anak muda khususnya ananda tercinta

    Like

Leave a reply to Ummu Iyad Cancel reply

Design a site like this with WordPress.com
Get started